Disclaimer

Segala sesuatu yang termuat dalam edisi digital ini adalah bentuk pendapat pribadi dan berdasarkan pemahaman penulis terhadap berbagai hal yang bersumber pada acuan-acuan tertulis, pendapat penulis lain dan atau pada artikel lain. Segala macam pendapat, kritik, sanggahan yang terdapat pada artikel di blog ini, adalah sebagai pendapat pribadi, tidak bersifat final dan tidak mengikat pihak manapun dan semata-mata sebagai upaya konstruktif agar segala sesuatu menjadi lebih baik. Penulis tidak dapat diganggu-gugat dalam segala macam bentuk apapun sebagai wujud kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat dan hak asasi manusia.

Rabu, 17 Agustus 2011

Desa Baha, Antara Desa Perjuangan & Desa Wisata


                                                                                                                           
Salam cinta kasih & perdamaian,

Para sahabat yang budiman, dalam tulisan kali ini penulis akan mencoba mengangkat tentang sebuah desa yang terletak di kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.  Desa Baha terletak sekitar 4 KM timur laut Kota Mengwi dan menjadi pertemuan jalur segitiga emas, obyek wisata Sangeh-Baha-Taman Ayun/Tanah Lot. Desa ini terletak sekitar 2 KM dari kampung halaman penulis. Kenapa penulis mengangkat tentang desa ini?


Desa Baha Desa Perjuangan

Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, Desa Baha merupakan  salah satu basis perlawanan rakyat Bali melawan penjajah. Puncaknya pada tahun 1946, semangat puputan para pejuang Baha berkobar mem-back up pejuang I Gusti Ngurah Rai dalam melawan Belanda. Bukti-bukti peninggalan masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI masih terdapat di desa ini seperti goa persembunyian masa pendudukan Jepang serta Alas(Hutan) Baha sebagai tempat persembunyian para laskar pejuang Bali pada masa itu.

Saat ini, masih terdapat saksi hidup yang merupakan veteran pejuang RI di Desa Baha, namun jumlahnya tidak begitu banyak, seiring lanjutnya usia dan banyak diantara mereka yang sudah meninggal. Kobar semangat Merah-Putih begitu terasa di desa yang berhawa sejuk ini. Penulis amati beragam bendera merah putih ukuran kecil dan super besar menghiasi halaman rumah-rumah penduduk.Hal ini sedikit tidaknya menjadi bukti betapa generasi muda Desa Baha masih memiliki dan mewarisi jiwa nasionalisme dari para leluhur mereka yang notabene adalah pejuang-pejuang gagah berani.

Penulis yang sempat melakukan penelitian kecil di desa ini pada tahun 2000, selalu terkesan setiap kali singgah dan melewati jalan desa yang bersebelahan dengan Desa Sobangan(terkenal juga sebagai basis perjuangan) di utara desa, serta Desa Gulingan di batas selatan. Suhu yang sejuk di pagi hari dengan hamparan sawah di timur dan selatan desa menjadi jaminan buat anda yang berkunjung ataupun sekedar lewat akan tertegun dengan keasrian desa pejuang ini.

Desa Wisata?

Pada tahun 2000, penulis pernah melakukan penelitian terkait dengan pencanangan Desa Baha sebagai desa wisata oleh pemerintah kabupaten Badung yang di-launching pada tahun 1992. Sekaligus sebetulnya catatan ini adalah sebagai inti sari dari paper yang penulis buat pada waktu itu(dengan judul: "Dampak Pengembangan Desa Wisata Terhadap Kehidupan Masyarakat di Desa Baha"). Pencanangan desa wisata di desa Baha ini, pada masa kepemimpinan Bupati Badung Alit Putra, sebetulnya adalah sebuah program yang cukup bagus, mengingat potensi Desa Baha secara historis, sosiologis, dan geografis cukup mendukung. Pada tahun 1992 itu, project ini digeber di tahun berikutnya dengan secara fisik membangun angkul-angkul(gerbang tradisional) sebanyak 350 buah(adalah sejumlah rumah warga desa Baha).Ditambah dengan penataan kolam/taman desa yang terletak di selatan desa serta peningkatan infra-supra struktur lainnya. Organisasi pertanian subak di desa Baha yang bernama Subak Lepud menjadi ujung tombak dalam menyukseskan program ini. Sayangnya, program yang bagus ini mandeg dan kehilangan gaungnya karena berbagai persoalan.Menurut penulis ada beberapa persoalan yang perlu dibenahi kalau ingin tetap menjadikan Desa Baha sebagai desa wisata, yaitu:
  • Political Will pemerintah Kabupaten Badung yang setengah hati
  • Kondisi Alamiah Desa Baha beserta masyarakatnya yang sudah masuk ranah modernisasi
  • Networking yang lemah antara pemerintah dengan stakeholder pariwisata
  • Spirit/Semangat masyarakat yang kendor karena berbagai faktor;diantaranya mind set, paradigma
Solusi mengatasi Persoalan diatas:
  • Pemerintah kabupaten Badung dan juga propinsi harus membuat blue print pengembangan pariwisata pedesaan yang berbasis masyarakat secara tegas di aturannya serta efektif pelaksanaannya.Tertangkap kesan, Pemkab Badung ragu-ragu sehingga "outstanding project 1992" itu adem ayem saat ini. Ujung-ujungnya tentu, dari segi anggaran, alokasi dana yang diperuntukan demi pengembangan desa wisata mubazir dan sia-sia
  • Kondisi dulu dengan sekarang jelas memang beda, seiring dinamika alam dan mobilitas penduduk Desa Baha, namun yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana mempertahankan apa yang sudah ada sekarang dan perbaikan sarana-prasana penunjang wisata desa di tempat ini.
  • Ego sektoral perlu dikesampingkan apabila Pemkab Badung tetap menginginkan Desa Baha sebagai Desa Wisata andalan penyokong segitiga emas;Sangeh-Taman Ayun-Desa Baha sebagai penyeimbang kawasan Badung Selatan. Dalam hal ini, kerjasama sinergis dengan travel agent, hotel dan tourist-tourist information center lainnya perlu digarap lebih serius, dengan kerendahan hati dan saling menguntungkan.
  • Berbagai aktifitas mutualisme yang melibatkan masyarakat Desa Baha perlu dilanjutkan secara rutin. Aktifitas itu diantarannya kegiatan berbasis pemuda dan masyarakat seperti: tari-tarian, industri rumah tangga,insentif bagi organisasi subak Lepud, dll.
  • Disamping itu, mengingat potensi pertanian di desa Baha pengembangan bahan pangan organik dan herbal yang saat ini menjadi tren di dunia perlu digarap se-optimal mungkin di desa sejuk ini.
Di Bali sendiri, Desa Tradisional/Desa Wisata yang masih eksis saat ini diantaranya adalah Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli.Untungnya, di desa Penglipuran eksistensi mereka ditunjang karena kondisi alamiah fisik rumah-rumah penduduknya dari dulu memang seperti yang anda sering lihat di desa tersebut. Kejelian pemerintah dalam menggali potensi wilayah sangat diperlukan dalam upaya pemberdayaan yang lebih terarah dan memberi dampak positif bagi warga-nya.

Menurut penulis, khusus untuk di Desa Baha, Potensi efektif yang perlu digali dan dikembangkan lebih intens adalah:
  1. Potensi Historis Desa Baha; dengan mem-file, mendata dan merekonstruksi desa Baha sebagai desa perjuangan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI
  2. Potensi Alam; Topografis wilayah desa yang mendukung ditambah dengan aliran air yang cukup dalam mengairi lahan pertanian Subak Lepud cukup menjadi jaminan akan tercapainya misi Pemkab Badung dalam pengembangan Desa Wisata di Baha
  3. Potensi Sumber Daya Manusia; Masyarakat Desa Baha yang bermata pencaharian beragam(mayoritas petani) beserta generasi mudanya harus di garap lebih serius dengan cara memberikan pelatihan-pelatihan yang relevan.
Kesan & Saran

Penulis berharap bahwa pengembangan desa wisata di desa Baha tidak menjadi proyek asal jalan dan berubah-ubah sesuai dinamika politik di daerah Badung. Patut dicatat bahwa apabila Desa Baha berhasil di-goal-kan sebagai desa wisata, maka hal ini akan menjadi preseden baik sekaligus penyeimbang bagi pengembangan pariwisata Badung Selatan, tengah dan utara. Dan, sudah tentu keberhasilan pariwisata Badung juga akan dirasakan oleh kabupaten lainnya serta Bali pada umumnya.

Om Ano Badrah Kratevo Yantu Viswatah! (Semoga pikiran yang baik datang dari arah)

Merdeka!!!!!


SM,
Pekerja Pariwisata & Cucu seorang Pejuang
Share/Bookmark

8 komentar:

  1. semoga terlaksana pak menjadi dewa wisata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thanks atas atensinya Pak...Saat ini Desa Baha "hanya" menjadi persinggahan wisata bagi para pelancong ke Bali, khususnya yang melintasi obyek wisata Sangeh(Monkey Forest) dan Pura Taman Ayun - Tanah Lot. Disisi lain, Desa Baha kalah pamor dengan Desa Penglipuran Bangli dari infrastruktur dan suprastruktur pendukung desa wisata

      Hapus
  2. Bli saya mau tanya bli asal dari desa baha atau pernah melakukan penelitian mengenai desa baha ? saya rencana akan mengambil PL3 saya di desa wisata baha mengenai kebijakannya,, kalo bli gak keberatan boleh saya tanya2 ke bli mengenai desa baha?

    BalasHapus
  3. Dear Chimoy Lena,

    Saya pernah melakukan penelitian tahun 2000 tentang Desa Wisata Baha, Silahkan dengan senang hati.

    Salam,

    Dwija

    BalasHapus
  4. Om Suastiastu Bli Dwija, saya Hendra dari Desa Baha, kebetulan saya sekarang sedang mengerjakan proposal rencana desa Wisata Baha. mungkin dari penelitiannya Bli, ada terkumpul data-data tentang Goa Perjuangan. kalau boleh, bisa sharing data2 nya Bli? karena saya sangat minim data. trima kasih
    I Gede Hendra Jusmita
    hendrajusmita@gmail.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf lama ga update Hendra. Khusus untuk Goa Perjuangan, saya ga pegang datanya. Coba tanya ke Pak Jiguh(mantan Kepala Sekolah SD 1 Baha, Pak Wayan Kundra perangkat desa Baha. Plus kalau ada Veteran yang masih hidup coba Hendra wawancara. Suksme.

      Dwija

      Hapus
  5. masih ada data2 tentang desa Baha Bli?

    BalasHapus
  6. Apa yang harus kami lakukan agar tujuan dari pemerintahan kab.badung menjadikan desa baha sebagai salah satu daerah tujuan wisata ?

    BalasHapus