Disclaimer

Segala sesuatu yang termuat dalam edisi digital ini adalah bentuk pendapat pribadi dan berdasarkan pemahaman penulis terhadap berbagai hal yang bersumber pada acuan-acuan tertulis, pendapat penulis lain dan atau pada artikel lain. Segala macam pendapat, kritik, sanggahan yang terdapat pada artikel di blog ini, adalah sebagai pendapat pribadi, tidak bersifat final dan tidak mengikat pihak manapun dan semata-mata sebagai upaya konstruktif agar segala sesuatu menjadi lebih baik. Penulis tidak dapat diganggu-gugat dalam segala macam bentuk apapun sebagai wujud kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat dan hak asasi manusia.

Minggu, 05 Desember 2010

Ikhtisar Gelar (Titel) Tri Wangsa Menurut Raad Van Kerta

Saudara sekalian,

Adapun catatan ini penulis anggap hanya sebagai penambah wawasan belaka. Semata-mata karena ketertarikan penulis akan budaya leluhur beserta dgn nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Tri Wangsa menurut seorang ahli hukum (adat) Bali lampau Mr. Gde Panetje adalah terdiri dari Wangsa Brahmana, Ksatriya, dan Wesya. Sejatinya, Tri Wangsa ini adalah ciptaan Belanda untuk kepentingan politik Pemerintah kolonial Belanda supaya mudah melakukan social control di Bali. Untuk itu, melalui sebuah konferensi yang berlangsung 15-17 September 1910, Belanda merekonstruksi sistem kasta baru dengan golongan triwangsa di atas sudra.


Yang dimaksud dengan Raad Van Kerta adalah lembaga peradilan adat ciptaan pemerintah kolonial yang pernah mengatur sistem kehidupan sosial-adat Bali pada era 1930-an sampai menjelang tahun 1952(sebelum diganti menjadi Pengadilan negeri, 1952). Raad Van Kerta di Bali yang terkenal adalah di Klungkung (Kerta Gosa) dan Singaraja.

Mengenai Raad Van Kerta ini, dalam sebuah ruang diskusi terbatas yang digelar oleh Bali Post tahun 2004, seorang tokoh agama Hindu,yakni IB Gunada juga sepakat dengan Dewa Mardiana (peserta diskusi) soal peradilan agama. Kata mantan Sekjen Parisada Pusat ini, sejak dihapuskannya Raad van Kerta, umat Hindu di Bali kurang mendapatkan keadilan dalam bidang agama dan adat. Misalnya, jika umat kehilangan pratima yang diukur hanya materialnya. Sementara nilai kesakralannya tak terjangkau hukum. Karena itu, perlu peradilan adat dan agama. Sekretaris Peradah Bali(waktu itu) I Nyoman Mardika juga menyebut berbagai kasus. Kepemilikan tanah sering menjadi masalah krusial dalam sistem adat di Bali.


*Wacana tentang Peradilan Adat Bali penulis kira mari kita bicarakan pada catatan berikutnya...

Pembaca nan Budiman,

Mr. Gde Panetje dalam bukunya "Aneka Catatan Tentang Hukum Adat Bali" putusan-putusan pengadilan adat Raad Van Kerta begitu mengikat dalam kurun waktu lebih dari 30 tahun dan mempengaruhi tatanan sosial budaya masyarakat Bali. Lebih jauh Mr. Panetje menambahkan bahwa hukum adat Bali sebagaimana hukum adat lainnya sifatnya tidak tertulis dan justru untuk mengenal dan mencintai norma-norma dari Hukum Adat itulah Putusan-Putusan Pengadilan(adat) yang berwenang melaksanakan tapi sekaligus menentukan arah perkembangan hukum adat". Ini berarti bahwa catatan lama ini mendorong ke arah sebuah tatanan masyarakat yang tertib dan taat(menghormati) hukum. Siapapun, apapun, dimanapun masyarakat (adat) itu berada.

Berbagai konflik adat,yang diantaranya perubahan gelar(status sosial dari A ke B yang cenderung menimbulkan konflik horizontal di tengah detak-detik kehidupan masyarakat Bali mendorong penulis tuk mencari catatan lama yang setidaknya dapat dipakai sebagai cermin, sarana introspeksi untuk kita semua, Referensi masa lalu tidak selamanya jadul, kuno, gengsi.emoh tuk dipakai masa sekarang sebagai acuan dalam bertata-kelakuan di kehidupan sehari-hari dan di masa depan.

Pembaca, terkait dengan judul diatas, menurut Catatan Dr. V.E.Kern halaman 147 dst, tahun 1932), bahwa adapun Ikhtisar golongan Tri Wangsa(Brahmana, Kesatriya.dan Wesya) berikut gelar/titelnya adalah:

1. Wangsa Brahmana

Yang terbagi atas golongan/garis keturunan:

*Kemenuh

*Manuaba

*Keniten

*Mas

*Antapan

Adapun Titel di muka namanya adalah: Ida atau Ida Bagus untuk pria dan Ida Ayu(Idayu) untuk wanita. Ida Bagus hanya untuk pria yang Ibunya juga dari kasta Brahmana.

2. Ksatriya

* Ksatriya Dalem. Adapun asal dari golongan ini adalah semua golongan berasal dari keturunan Mpu Nirarta yang disebut juga Pedanda Sakti Wawu Rauh. Beliau mempunyai beberapa istri yang masing-masing menurunkan satu golongan asal keturunan Brahmana Mpu Kepakisan;salah seorang putranya ditugaskan menjadi Raja di Bali sehingga mendapat tugas Ksatriya.

*Ida Idewa. Hanya dipakai oleh Dalem(Raja) Klungkung yang BERTAHTA dan putra-putranya yang lahir dari Ibu/Istri Padmi(Permaisuri). Putra-putra-nya dari Ibu/istri Penawing/selir memakai titel/gelar Cokorda. Putra seorang Cokorda dari sistri padmi memakai gelar Cokorda juga(untuk wanita: Cokorda Istri), putra dari istri penawing memakai titel I Dewa atau Anak Agung(Wanita: I Dewa Ayu dan Anak Agung Istri).

*Pradewa. I Dewa untuk Pria dan Desak untuk Wanita. Merupakan asal keturunan Dalem(Raja) Klungkung yang sudah tidak memegang kekuasaan lagi.

* Pungakan. Ngakan bagi Pria dan Desak untuk wanitanya. Merupakan asal keturunan Dalem(Raja) di Klungkung dari Istri yang memiliki kasta lebih rendah.

Catatan : Misalnya keluarga Raja Gianyar dan Bangli masing-masing keturunan Dalem Sagening dan Dalem DiMade.Tapi dalam kehidupan sehari-hari keluarga ini memakai titel I Dewa atau Anak Agung.

* Prabagus. Bagus untuk Pria dan Ayu untuk wanitanya. Golongan ini merupakan turunan Adik Dalem Waturenggong yang tidak memegang kekuasaan.

*Prasangiang. Sang untuk Pria dan Sang Ayu untuk wanitanya. Merupakan turunan Bendesa Pandek yang diangkat Ksatriya oleh Dalem Ketut.

3. Wesya.

*Arya (Wesya Utama), I Gusti bagi Pria dan Ni Gusti Ayu bagi wanitanya. Yang memegang kekuasaan memakai titel/gelar I Gusti Agung begitu juga dengan anak-anaknya yang Pria. Sedangkan anak wanitanya memakai gelar Sagung. Orang memanggilnya masing-masing Anak Agung dan Sagung. Adapun asal keturunan para Arya dari tanah Jawa dibawah komando Panglima Majapahit Patih Gajah Mada. Di Bali, para Arya ini diberi kekuasaan memerintah. Misalnya, Arya Damar, Arya Wangbang. Arya Gajah Para. Terdapat di daerah Badung, Mengwi dan Tabanan. Namun seiring pertambahan n mobilitas penduduk saat ini keturunan mereka tersebar di berbagai penjuru.

*Catatan: Perhatikan gelar Anak Agung didaerah-daerah Badung, Tabanan, dan Mengwi berbeda dengan titel Anak Agung di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung. Perbedaan disini bukan kedudukannya, hanya penyebutannya saja. Ingat semua manusia adalah sama di mata Tuhan.!

* Gusti(tanpa jajaran I). Untuk Pria disebut Gusti dan Wanita disebut Gusti Ayu. Merupakan keturunan para Arya Jawa yang tidak memegang kekuasaan memerintah(pada massa itu).
* Gusti. Gusi atau Si untuk Pria dan wanita dan Si Luh untuk wanitanya.Merupakan keturunan Wesya Jawa.

CATATAN PENTING

Anak Agung dan Cokorda selain merupakan titel juga nama jabatan dari RAJA-RAJA di Bali, yang kemudian sesudah Pemerintah Belanda memulihkan kembali kedudukan para Raja itu sebagai ZELFBESTUURDER(Kepala Pemerintahan Daerah Swapraja) dalam tahun 1938, diresmikan lagi bagi nama Jabatan mereka. Adapun rinciannya yaitu:

*I Dewa Agung: Bagi ZELFBESTUURDER Swapraja Klungkung

*Anak Agung Agung: ZELFBESTUURDER Swapraja Karangasem

*Cokorda : ZELFBESTUURDER Swapraja Badung dan Tabanan

*Anak Agung : ZELFBESTUURDER Swapraja Bangli, Buleleng, dan Jembrana


Dengan demikian sebenarnya hanya yang menjadi ZELFBESTUURDER(KEPALA PEMERINTAHAN DAERAH SWAPRAJA) sajalah yang berhak memakai titel jabatan( Ambtstitel): Cokorda atau Anak Agung tapi dalam prakteknya, putra-putri-nya pun secara kurang tepat memakai titel itu juga. Titelnya yang tepat adalah: I Gusti Agung untuk Badung/Tabanan dan I Gusti untuk Buleleng/Jembrana.

Menurut penulis, apapun itu, apa yang diwarisi sekarang oleh kita semua, adalah cultural heritage yang tiada duanya yang menjadi sub bagian keunikan Bali. Di zaman global ini yang menentukan status sosial seseorang dalam tata pergaulan global adalah pemikirannya, tutur katanya dan perbuatannya. Dalam ajaran agama Hindu ada sebutkan Tri Kaya Parisudha( Tiga ajaran tentang bagaimana berfikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar). Pedoman ini seyogyanya menjadi landasan generasi muda Hindu dalam mengarungi samudera pergaulan sosial global yang penuh tantangan dewasa ini. Semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.

***Catatan ini bersumber dari buku: Aneka Catatan Tentang Hukum Adat Bali oleh Mr.(Sarjana Hukum jaman jadul), Gde Panetje terbitan CV. Kayumas, Cetakan I Tahun 1986

Salam,


Satria Madangkara


Share/Bookmark

14 komentar:

  1. Kita sewajarnya menghargai semua warisan leluhur.
    Tapi harus dibedakan antara warisan sosial budaya dan warisan kekuasaan pemerintahan. Gelar dan nama yang masih mereka pakai sekarang hanyalah warisan sosial dan bukan warisan kekuasaan pemerintahan.

    BalasHapus
  2. Dear sobat, benar sekali, kita memang harus menghargai warisan leluhur dan hal-hal yang baik kita wajib lestarikan. Masa lalu adalah cermin buat melangkah di masa depan. Semoga segala sesuatunya senantiasa jadi lebih baik

    BalasHapus
  3. saya masih bingung dengan pembagian treh ksatria Dalem...
    mungkin bisa dijelaskan...
    apa perbedaan antara Ksatria Dalem dengan Ksatria Pradewa???
    bukannya Dalem segening sebelum mangkat Raja (menurut babad) bernama Ida I Dewa Anom Segening???
    jika demikian, Dalem Segening jg Ksatria Pradewa??? memang yang membagi Ksatria Dalem menjadi beberapa SUB adalah Dalem Segening.
    begitu pula dengan Dalem Sukawati, sebelum menjadi manca Klungkung, bernama Ida I Dewa Anom Sirikan, jadi apakah beliau merupakan Ksatria Pradewa??? tp mengapa keturunan beliau mengaku sebagai Ksatria Dalem???
    begitu pula dengan Kerajaan Klungkung yang semua Rajanya bergelar Ida I Dewa Agung, apakah Treh Raja klungkung hingga Raja Terakhir yang Puputan memakai Kesatria Pradewa???
    Jika Benar sama antara Ksatria Dalem dengan Ksatria Pradewa, mengapa tidak memakai nama Ksatria Dalem saja, atau Ksatria Pradewa saja????

    BalasHapus
  4. Silsilah Dalem Segening:
    Betara Empu Kresna Kepakisan
    Betara Dangiang Kresna Kepakisan
    Dalem Ketut Kresna Kepakisan
    Dalem Ketut Ngulesir
    Dalem Waturenggong:
    Ida I Dewa Pemahyun (Dalem Bekung)
    Ida I Dewa Dimade (Dalem Sagening)
    Dalem Sagening adalah putra dari Dalem Waturenggong.

    Mengenai Ksatria Dalem(Wit Dalem):
    Diceriterakan keadaan di Majapahit, ketika ditinggalkan oleh Kryan Gajah Mada dan para pepatih.
    Adalah konon seorang Raja Koripan yang berasal dari keturunan Majapahit yang dibencanai oleh Hyang Hari terus menerus, maka timbul hasrat untuk menegakkan ajaran Agama yang diabaikan sejak sepeninggal Gajah Mada.
    Setelah direnungkan untuk mulai melaksanakan sebaik baiknya, pada pemerintahan Sri Aji Taruna.
    Jadi lama beliau Raja Koripan berada di Majapahit dan mempunyai putra yang dapat diandalkan, laki 3 orang, dan seorang putri.
    Putranya yang tertua diberikan tempat di Madura dengan membawa dan mengangkat Ki Lumbung Sajurang, pusaka itu dipegangnya.
    Yang seorang masih berada di daerah Jawa, yang bertempat di Majalekak dan putranya yang paling bungsu diketahui berada di perbatasan.
    Itulah sebabnya para punggawa habis mengantarkan pergi ke Bali. Putrinya diambil oleh raja di Sumbawa dibekali dengan pusaka yang bergantung taring (danta) dan sarung keris Bagawanta Canggu yang bernama Danta.
    Demikian perilaku para putra beliau diserahi daerah oleh Raja Koripan.
    Oleh karena Raja akan menuju Sorga. Sunyi sepi di Majapahit karena kehendak Hyang Hari.

    [Kembali ke atas]

    Berikutnya diceriterakan raja yang memerintah di Gelgel, negara aman makmur di daerahnya sampai perbatasan Sasak dan Blangbangan. Rakyat semua tunduk dan hormat sebab beliau memerintah dengan sangat bijaksana yang berbeda dengan pemerintahan di Majalangu, juga parhyangan dan pelemahan ditata dengan baik. Itulah yang menandakan aman dan makmur.
    Setelah beberapa lama kemudian datang huru-hara semenjak menghilangnya pusaka Sri Jangkung Angilua dan Tongkat yang bernama Si Olanguguh dari Gelgel, kemudian terjadi perebutan kekuasaan dan Agama itu hanya di tengah samudra ibaratnya.
    Dunia mengalami kemelaratan, rakyat tak dapat bekerja, banyak yang kelaparan, kurus kering, pergi ke tempat menyingkir ke desa desa.
    Setelah demikian, amanlah keadaan Negara Gelgel, menangis kalau mengenangkan kekalutan Negara Gelgel yang lalu, baik Ksatria, Brahmana, dan para Bujangga mengadakan pembangunan.
    Dalam pemerintahan, antara Raja dengan Rakyat agar selalu mengadakan pendekatan lebih lebih dengan pendeta, jangan pernah terpisah agar mendapat petunjuk atau ajaran ajaran kesucian, itulah kewajiban seorang raja.
    Juga raja membagikan pakaian di dalam Sukasada.
    Demikian lah kewajiban seorang Kepala Negara, dan kewajiban memberikan keputusan agar keputusan itu dilaksanakan dengan sebaik baiknya, sebabnya tidak diukur dengan kaya miskin, dan bila mana keputusan itu kurang baik hendaknya Raja meminta bantuan kepada rakyat untuk memberikan hasil.

    Menurut saya jangan kita dibingungkan oleh hal ini. mari kita gali dan gali lagi.Saya yakin diatas sumber yang satu pasti adasumber lainnya.Rahayu..._/\_

    BalasHapus
  5. Ada ataupun dianggap tiada praktek pengKASTA'an' di Bali sampai detik ini msih berlaku bhkan akhir2 ini mkin mengkhwatirkan sprti yg smpat di ekspos olh media cntoh;kasus di Bungaya krngasem[titel/nama],di gianyar[mslh mebnjar] di Gulingan mengwi[titel.nama],ksus di cemagi mengwi[titel/nama],bhkan sya prnh mmbaca di slh satu media lokal msyrkat sasak lmbok tak jadi msuk/gabung k hindu hnya gara2 bingung akan dimasukan ke kasta yg mana ???? dan tntunya msih bnyk ksus2 yg adat yg berlatar Kasta/soroh yg tak terekpos trjadi di msyrkat !!
    mnurut pndpt sya pribadi n sesuai dgn knyataan yg ada,Masalh utamanya adlh..sbgaimana kita ktahui akhir2 ini msyrakt Bali ada trend menelusuri jejak leluhur/soroh/keturunan..dan ktika mrka sdh mnemukanya dan trnyata mrka trmsuk dlm trah/golongan/soroh yg derajat/soroh yg mrka anggap lbih tinggi n terhormat maka mulailah msalh itu timbul...sekat2 mulai ada,batas2 mulai di bentuk,mengkultuskan diri mulai nampak..dan akibatnya adlh dlm pergaulan dimsyarakat akn nampak kejanggalan sesuatu yg aneh dan tk biasa mulai terasa..cntoh dri segi tata berbahasa..sblumnya yg biasa akrab dgn bhsa gaul sehari2..cang,ci,iba,wake..tk diperkenankan atw dgn cara mendiakan/cuek lo di sapa dgn kata2 trsebut,..lo dulu biasa bersama2 makan sepiring atw ngopi sgelas kini tk bolh/tak sudi lagi.....dan itu smua mnurut saya sprti Bom Waktu yg swktu2 bsa Meledak....

    Dan perilaku2 dikriminatif dan pengkultusan diri sejak dahulu bhkan masih di lestarikan smpai skrang contoh ;odalan di pura,orng2 dri soroh2 tertentu tkan mw di siratin/dipercikan tirta olh pemngku yg kbtulan sorohnya di aggap rendah,ada brlaku bbrapa desa adat soroh2 trtntu tdk mw makan lungsuran di pura khyangan tiga,biasanya mrka mebuat Pura untk klompok sndriri dan tk mw smbhyang bercampur dgn warga lain,biasanya dinamakan Pura Dalem Puri...''Dan mnurut saya yg paling diskriminatif n berbentuk pelecehan adlah ''jika sorng LAKI2 dri soroh tertentu trus kawin dgn WANITA yg berkasta lbih rendah maka ketika odalan di Merajan'nya/pura klrganya wanita trsbut DILARANG/tdk berhak naik ke pelinggih2/bangunan suci yg ada disitu,bhkn sang ibu trsbut lbih dianggap sbgai Pengayah/penyeruan/dayang shingga hak2nya di batasi tk blh sembarangan bertikah laku walau dgn anak darah dagingnya sendiri...sungguh2 kenyataan yg Ironis n menyedihkan............

    Dan skrng yg terpenting adlh bgaimana caranya menyadarkan orang2 Bali tentang KEKELIRUAN ini ?????mengingat ADAT itu tdklah kekal,jk tk sesuai dgn peradaban zaman bsa di rubah ....ingat kisah Sati/mesatya[menceburkan diri ke api pembakaran jenazah] zaman kerajaan dulu dan kisah Bayi kembar buncing yg hrus di buang ke kuburan....bukankah sudah dan memang harus ditinggalkan bhkan di hapus selama2nya ??bgtu jg dgn sistem Kasta ini...hnya satu kata..HAPUS DRI MUKA BUMI INI....

    Zaman n peradaban makin maju n modern..tpi knapa kita orng2 Bali msih bergelut dgn norma n adat yg kolot dan bodoh sporti ini..????
    .akhir kata..Maaf jk ada kata2 yg tk brkenan..salam Damai......shanti.....

    BalasHapus
  6. sebenarnya tidak ada kasta, yang ada itu WARNA. Dalam hindu, setahu saya tidak ada catur kasta, yang ada itu CATUR WARNA.

    Misalkan saya punya teman, bernama Ida Bagus X, tetapi setiap hari kerjanya hanya mabuk mabukan, pantaskah kita menganggapnya sebagai brahmana (Tuhan di atas dunia)?

    saya lebih respek pada orang sudra yang menjadi pendeta, memberi penerangan kepada umat dan muput karya ketimbang orang orang keturunan brahmana yang tidak mampu menunjukkan sisi brahmananya.

    "Barang siapa yang mampu berpikir, berucap dan bertindak seperti brahmana, maka dialah brahmana yang sesungguhnya"

    BalasHapus
  7. wow..... ternyata aku baru tahu ini adalah Bali....dimana aku tinggal 30 tahun lebih.....

    BalasHapus
  8. @Sahabat Anonymous: saya setuju ama sahabat berdua. Thanks atas comments-nya
    @ De Oka: Inilah Bali kita, ngiring druenang sareng-sareng(mari kita rawat demi anaka cucu kita)

    BalasHapus
  9. Do you have a name off a High Priestess or an address? I want to do the Melukat Mebayuh in may.
    Apakah Anda memiliki nama dari sebuah High Priestess atau alamat? Saya ingin melakukan Mebayuh Melukat pada bulan mei. Marjolein

    BalasHapus
  10. coba bandingkan dengan bahasa KASTA DAN CATUR WARNA, sejarah Kasta di India dan Bali, Upaya para misionaris kristen menyesatkan pemahaman terhadap Agama Hindu yang di dukung oleh kolonialis Inggris dan belanda

    baca di www.dharmagupta.blogspot.com

    BalasHapus
  11. Dear Marjolein,
    I do have some names of High Priest to do the Melukat and Mebayuh. Normally, A high priest before conduct a "Pebayuhan"(Mebayuh), He/She needs to know your date of birth which He/She will find out your Balinese date of birth(OTONAN). Please contact me on my email: dwija.suastana@gmail.com, or give me your cell number.

    @ Saudara Guli: Terima kasih atas kunjungannya.Senang rasanya bisa sharing/berbagi. Rahajeng!

    BalasHapus
  12. Dear Anonim 30 Agustus dan Penulis,
    Sebenarnya tentang Ksatria Dalem sdh dijelaskan oleh Bli Satria Madangkara, dalam paragraf di atas.

    "Ksatriya Dalem. Adapun asal dari golongan ini adalah semua golongan berasal dari keturunan Mpu Nirarta yang disebut juga Pedanda Sakti Wawu Rauh. Beliau mempunyai beberapa istri yang masing-masing menurunkan satu golongan asal keturunan Brahmana Mpu Kepakisan;salah seorang putranya ditugaskan menjadi Raja di Bali sehingga mendapat tugas Ksatriya"

    Jadi gelar I Dewa pun merupakan bagian keluarga besar Satria Dalem.Ini sdh jelas, kalau leluhurnya bergelar "Dewa", pastilah Trah Dalem.Lain halnya dg "Anak Agung" bisa saja saudara2 ini dari keturunan Arya, bisa juga dari keturunan Dalem. Ini tiang anggap dinamika saja.

    Saya sendiri melihat di kekancingan (silsilah) keluarga kami, memang beragam gelarnya, spt apa yg dikatakan tulisan di atas, di daerah saya sendiri, masih memakai Ida I Dewa/ I Dewa, karena demikianlah yang diturunkan.

    Tambahan, tujuan sistem keturunan spt ini, yang disebut wangsa/gothra, menurut saya pribadi sebaiknya dimuarakan ke bhakti kepada leluhur, menjaga situs2 agung warisan Beliau, dan meneladani kebaikan kepemimpinannya. Bukan ke feodalisme atau untuk gagah2an.

    Hormat saya untuk penulis dan rekan2 yg berdiskusi di sini.
    Yoga.

    BalasHapus
  13. perbedaan antara dewa ayu n desak, dan mana yg sebaiknya digunakan? suksma

    BalasHapus
  14. Dapat kami koreksi bahwa tidak benar ksatrya dhalem diturunkan oleh mpu nirartha, krn mpu nirartha datang ke bali saat masa pemerintahan ida dhalem baturenggong, jadi beliau seangkatan, jika ditarik ke atas ayah mpu nirartha dibuat seangkatan dg kakek dari kakeknya ida dhalem baturenggong yaitu dang hyang kepakisan, ada 3 orang yg hilang dari garis mpu nirartha, suksma

    BalasHapus