Pages
Disclaimer
Segala sesuatu yang termuat dalam edisi digital ini adalah bentuk pendapat pribadi dan berdasarkan pemahaman penulis terhadap berbagai hal yang bersumber pada acuan-acuan tertulis, pendapat penulis lain dan atau pada artikel lain. Segala macam pendapat, kritik, sanggahan yang terdapat pada artikel di blog ini, adalah sebagai pendapat pribadi, tidak bersifat final dan tidak mengikat pihak manapun dan semata-mata sebagai upaya konstruktif agar segala sesuatu menjadi lebih baik. Penulis tidak dapat diganggu-gugat dalam segala macam bentuk apapun sebagai wujud kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat dan hak asasi manusia.
Jumat, 29 Oktober 2010
Pro Kontra Hak Pilih TNI-Polri
Belakangan ini selain gegap gempita piala dunia yang demikian membahana di seluruh penjuru dunia, di tanah air tercinta Indonesia, saya amati(spt biasa jd pengamat aja deh) byk sekali terjadi lalu lintas informasi yg begitu menyita perhatian publik. Katakanlah mulai dari urusan politik, ghost-ship artis, kemiskinan& pemiskinan dan hal-hal lainnya yang demikian mewarnai ragam kehidupan berbangsa & bernegara kita. Pada kesempatan kali ini, melalui media facebook ini, izinkan saya mencoba mengangkat sebuah wacana publik yang sebetulnya bukan barang baru lagi dalam kancah polemik tanah air, yakni tentang hak pilih TNI yang baru-baru ini digulirkan oleh orang nomor satu di republik kita, pak SBY.
Bunga Rampai Tentang Kasta, Warna & Wangsa Dalam Kehidupan Sosio-religius Masyarakat Bali
Catatan Berikut adalah kumpulan artikel tentang Kasta,Warna, Wangsa terkait dengan link yang pernah penulis angkat dalam profile pribadi penulis di akun facebook ini yang bersumber dari link kompas.com http://regional.kompas.com/read/2010/05/20/17342986/Sistem.Kasta.di.Bali.Perlu.Diluruskan.-5 (kompas.com mewawancarai saudari Saraswati Dewi)
Menjadi perbincangan cukup hangat dari saudara-saudara penulis yang begitu concern terhadap masalah ini(silahkan masuk ke profile penulis kalo ingin menyimak). Lebih khusus lagi, catatan ini penulis persembahkan dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010 lalu.
Adapun maksud membuat bunga rampai ini (sesuai dgn topik diatas), adalah semata-mata sebagai penambah wawasan, memperkaya khasanah berpikir dalam nuansa keragaman paradigma pembaca masing-masing. Tentunya, sebagai masyarakat awam, kita tidak perlu mempertentangkan segala sesuatunya dlm debat kusir yg berkepanjangan. Dalam kehidupan nyata, marilah kita jalani swadharma masing-masing menuju peningkatan kualitas & kuantitas diri sebagai umat, & mahluk sosial. Semoga Pikiran Yang Baik Datang dari Segala Arah!
*********************************************************

Menjadi perbincangan cukup hangat dari saudara-saudara penulis yang begitu concern terhadap masalah ini(silahkan masuk ke profile penulis kalo ingin menyimak). Lebih khusus lagi, catatan ini penulis persembahkan dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2010 lalu.
Adapun maksud membuat bunga rampai ini (sesuai dgn topik diatas), adalah semata-mata sebagai penambah wawasan, memperkaya khasanah berpikir dalam nuansa keragaman paradigma pembaca masing-masing. Tentunya, sebagai masyarakat awam, kita tidak perlu mempertentangkan segala sesuatunya dlm debat kusir yg berkepanjangan. Dalam kehidupan nyata, marilah kita jalani swadharma masing-masing menuju peningkatan kualitas & kuantitas diri sebagai umat, & mahluk sosial. Semoga Pikiran Yang Baik Datang dari Segala Arah!
*********************************************************
Bunga Rampai Tentang Kasta, Warna & Wangsa Dalam Kehidupan Sosio-religius Masyarakat Bali
Eksistensi Hutan Bakau Dalam Antisipasi Bencana Tsunami
Sahabat Pecinta Lingkungan Yth.
Seperti yang telah kita ketahui dan alami bersama, negara kepulauan Indonesia begitu rentan dengan bencana alam, sperti gempa, tsunami dan juga "gempa moneter". Dalam tulisan kali ini, saya mencoba mengangkat salah satu kearifan lokal (dari sekian banyak sebenarnya), yang merupakan potensi efektif yang disediakan oleh alam sekitar kita dalam membijaksanai cobaan dari Tuhan yang berupa bencana alam tadi. Secara khusus, tulisan ini, saya tujukan buat daerah kelahiran saya, yakni Bali. Saya menyadari bahwa saat inipun di Bali, para stakeholder terkait sedang gencar (jangan sampai mengendor) dalam membudidayakan dan membudayakan kegiatan -kegiatan pelestarian lingkungan. Dan, sebelumnya saya mohon maaf bahwa tulisan ini nanti akan lebih bersifat argumentatif daripada kuantitatif karena keterbatasan data & fakta yang saya hadapi. Semoga Pikiran yang Baik datang Dari Segala Penjuru!
Apa itu Hutan Bakau?

Seperti yang telah kita ketahui dan alami bersama, negara kepulauan Indonesia begitu rentan dengan bencana alam, sperti gempa, tsunami dan juga "gempa moneter". Dalam tulisan kali ini, saya mencoba mengangkat salah satu kearifan lokal (dari sekian banyak sebenarnya), yang merupakan potensi efektif yang disediakan oleh alam sekitar kita dalam membijaksanai cobaan dari Tuhan yang berupa bencana alam tadi. Secara khusus, tulisan ini, saya tujukan buat daerah kelahiran saya, yakni Bali. Saya menyadari bahwa saat inipun di Bali, para stakeholder terkait sedang gencar (jangan sampai mengendor) dalam membudidayakan dan membudayakan kegiatan -kegiatan pelestarian lingkungan. Dan, sebelumnya saya mohon maaf bahwa tulisan ini nanti akan lebih bersifat argumentatif daripada kuantitatif karena keterbatasan data & fakta yang saya hadapi. Semoga Pikiran yang Baik datang Dari Segala Penjuru!
Apa itu Hutan Bakau?
Eksistensi Hutan Bakau Dalam Antisipasi Bencana Tsunami
Manak Salah, Tradisi Atau Agama?
Hindu tak Mengenal Istilah Lahir Salah DALAM tradisi lokal (baca: Bali), di masa lalu adanya ibu yang melahirkan kembar buncing (laki-perempuan) bisa bermakna ganda. Jika keluarga raja yang memiliki putra buncing, hal itu bisa berarti berkah atau keberuntungan. Sebaliknya, bagi masyarakat kebanyakan hal itu bisa dikatakan bencana atau aib dan lazim, karena mereka manak salah. Sebenarnya tradisi ''kerajaan'' itu sudah dihapus dalam sebuah keputusan DPRD Bali pada tahun 1951. Namun, ternyata dalam koteks kehidupan modern sekarang masih ada yang menerapkan seperti yang terjadi di Nusa Lembongan, Nusa Penida, Klungkung. Bahwa ketika warga di sana ada yang melahirkan bayi kembar (manak salah), desa adat setempat sampai batal melakukan upacara melasti penyepian lantaran dinilai masih leteh. Lantas apakah tradisi-tradisi seperti itu masih relevan pada zaman modern ini? Bagaimana sebenarnya Hindu memaknai suatu kelahiran salah atau tidak salah?
Manak Salah, Tradisi Atau Agama?
Kamis, 21 Januari 2010
Heneng, Henung, Hening
Saudara,
Cukup lama rasanya bertapa dalam keheningan dan kemalasan tangan untuk menulis. Inipun sebenarnya, masih malas, entah kenapa, tapi proses 'kemalasan' ini saya nikmati saja. Apa kabar blogger n pembaca yang berbahagia? Selamat tahun baru 2010 saya ucapkan, semoga segala sesuatunya menjadi lebih baik, ditahun 2010 ini.

Cukup lama rasanya bertapa dalam keheningan dan kemalasan tangan untuk menulis. Inipun sebenarnya, masih malas, entah kenapa, tapi proses 'kemalasan' ini saya nikmati saja. Apa kabar blogger n pembaca yang berbahagia? Selamat tahun baru 2010 saya ucapkan, semoga segala sesuatunya menjadi lebih baik, ditahun 2010 ini.
Heneng, Henung, Hening
Rabu, 30 September 2009
My Autobiografi, An Endless Journey
OTOBIOGRAFI:
I MADE DWIJA SUASTANA
*Perjalanan Tiada Akhir*
________________________________________
I Made Dwija Suastana, adalah pencetus lahirnya organisasi kepemudaan/mahasiswa di kampus Universitas Warmadewa pada tahun 2005. Organisasi ini diberi nama Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Warmadewa, yang biasa disingkat PMHD UNWAR. Di organisasi inilah Dwija, Demikian lelaki ini akrab dipanggil, memperpanjang kiprahnya sebagai generasi muda yang kreatif dan nasionalis. Disamping itu, ia juga sebagai seorang pekerja di sektor pariwisata yang ulet.
Berikut tersaji otobiografi putra bangsa kelahiran Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada tanggal 23 Oktober 1979 ini, sebagai berikut:
…………………………………………………..

I MADE DWIJA SUASTANA
*Perjalanan Tiada Akhir*
________________________________________
I Made Dwija Suastana, adalah pencetus lahirnya organisasi kepemudaan/mahasiswa di kampus Universitas Warmadewa pada tahun 2005. Organisasi ini diberi nama Pasemetonan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Warmadewa, yang biasa disingkat PMHD UNWAR. Di organisasi inilah Dwija, Demikian lelaki ini akrab dipanggil, memperpanjang kiprahnya sebagai generasi muda yang kreatif dan nasionalis. Disamping itu, ia juga sebagai seorang pekerja di sektor pariwisata yang ulet.
Berikut tersaji otobiografi putra bangsa kelahiran Desa Sembung, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali pada tanggal 23 Oktober 1979 ini, sebagai berikut:
…………………………………………………..
My Autobiografi, An Endless Journey
Sabtu, 15 Agustus 2009
Filosofi Tumpeng Kuning
Jumat, 24 Juli 2009
Desa Adat, Pemecah Masalah yang Kerap Menjadi Masalah
Saudara,
Seperti yang kita pahami bersama, peranan Desa Adat(kini, Desa Pekraman sesuai Perda Propinsi Bali, No.2 Tahun 2002-red), begitu signifikan dalam berbagai sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali pada umumnya. Namun, patut kita sadari bahwa dari berbagai nilai positif yang ada, ternyata dalam perjalanannya Desa Adat banyak menyimpan potensi konflik yang lambat laun akan menjadi 'bom waktu' yang sewaktu-waktu bisa meledak. Kenapa bisa demikian?
Desa Adat dalam Analisa SWOT
Penulis mencoba membedah dan mengurai menurut cara pandang penulis yang sangat terbatas mengenai Desa Adat di Bali menurut analisa SWOT, yang terdiri dari: Strength, Weakness, Opportunity, and Threats. Yaitu sebuah cara analisa yang mencoba mengurai suatu permasalahan berdasarkan Kelebihan/kekuatan, Kelemahan, Kesempatan/peluang, dan Tantangan sehingga didapatkan sebuah perbandingan dan nilai-nilai dominan yang dipakai untuk memecahkan suatu permasalahan.

Seperti yang kita pahami bersama, peranan Desa Adat(kini, Desa Pekraman sesuai Perda Propinsi Bali, No.2 Tahun 2002-red), begitu signifikan dalam berbagai sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali pada umumnya. Namun, patut kita sadari bahwa dari berbagai nilai positif yang ada, ternyata dalam perjalanannya Desa Adat banyak menyimpan potensi konflik yang lambat laun akan menjadi 'bom waktu' yang sewaktu-waktu bisa meledak. Kenapa bisa demikian?
Desa Adat dalam Analisa SWOT
Penulis mencoba membedah dan mengurai menurut cara pandang penulis yang sangat terbatas mengenai Desa Adat di Bali menurut analisa SWOT, yang terdiri dari: Strength, Weakness, Opportunity, and Threats. Yaitu sebuah cara analisa yang mencoba mengurai suatu permasalahan berdasarkan Kelebihan/kekuatan, Kelemahan, Kesempatan/peluang, dan Tantangan sehingga didapatkan sebuah perbandingan dan nilai-nilai dominan yang dipakai untuk memecahkan suatu permasalahan.
Desa Adat, Pemecah Masalah yang Kerap Menjadi Masalah
Minggu, 14 Juni 2009
Sekilas Tentang Siat Peteng
Sobat Sekalian,
Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya penuh dengan makna-makna Ilahi yang sangat dalam. Termasuk didalamnya keberadaan dunia nyata dan tidak nyata. Dalam bahasa Bali dikenal dengan istilah sekala dan niskala. Perang atau pertempuran lumrah terjadi di dunia nyata. Namun perang yang terjadi di dunia niskala atau alam yang tidak kelihatan ini tentu mengundang rasa penasaran anda bukan?
Penulis akan mencoba menguak sedikit tentang dunia niskala yang sumbernya penulis dapat dari wawancara dengan beberapa nara sumber pelaku perang niskala ini. Mereka kebetulan adalah keluarga dekat penulis sendiri yang berprofesi sebagai sulinggih/Pemangku Pura.

Tuhan menciptakan alam semesta beserta isinya penuh dengan makna-makna Ilahi yang sangat dalam. Termasuk didalamnya keberadaan dunia nyata dan tidak nyata. Dalam bahasa Bali dikenal dengan istilah sekala dan niskala. Perang atau pertempuran lumrah terjadi di dunia nyata. Namun perang yang terjadi di dunia niskala atau alam yang tidak kelihatan ini tentu mengundang rasa penasaran anda bukan?
Penulis akan mencoba menguak sedikit tentang dunia niskala yang sumbernya penulis dapat dari wawancara dengan beberapa nara sumber pelaku perang niskala ini. Mereka kebetulan adalah keluarga dekat penulis sendiri yang berprofesi sebagai sulinggih/Pemangku Pura.
Sekilas Tentang Siat Peteng
Jumat, 12 Juni 2009
Menakar Peluang Para Kandidat Capres RI
Pembaca yang budiman,
Sebentar lagi tepatnya tanggal 8 Juli 2009, bangsa Indonesia kembali akan menggelar pesta demokrasi jilid II. Sebelumnya pemilu legislatif sudah digelar yang seperti kita ketahui bersama masih menyisakan berbagai persoalan. Mulai dari kisruh DPT, Pemilu ulang, caleg stress, dan lainnya. Dalam waktu dekat ini, kembali para putra-putri terbaik bangsa akan berkompetisi memperebutkan tahta menjadi orang nomer satu di republik ini.

Sebentar lagi tepatnya tanggal 8 Juli 2009, bangsa Indonesia kembali akan menggelar pesta demokrasi jilid II. Sebelumnya pemilu legislatif sudah digelar yang seperti kita ketahui bersama masih menyisakan berbagai persoalan. Mulai dari kisruh DPT, Pemilu ulang, caleg stress, dan lainnya. Dalam waktu dekat ini, kembali para putra-putri terbaik bangsa akan berkompetisi memperebutkan tahta menjadi orang nomer satu di republik ini.
Menakar Peluang Para Kandidat Capres RI
Cincin Tersedot, Perut Tercambuk & Air Suci
Pembaca,
Tulisan berikut adalah sambungan dari kisah penulis waktu "tamasya spritual" di Alas Purwo, tepatnya di pura Luhur Giri Selaka, Banyuwangi, Jatim.
Pada waktu penulis bersama rombongan merebahkan diri di lantai tanah pura situs(masih di kompleks Pura Luhur Giri Selaka), ada kejadian yang menimpa salah satu anggota rombongan. Sebut saja Pak Bagus, Dan beliau baru mau cerita tatkala dalam perjalanan pulang menuju Bali. Menurut Pak Bagus, pada malam itu, dia merasa perutnya ada yang mencambuk habis-habisan. Katanya yang mencambuk perutnya sesosok tua. Pak Dewa, yang hafal betul dengan seluk-beluk sekala-niskala Alas Purwo, dengan bercanda, menanyakan kepada Pak Bagus, apabila dia ada menelan sesuatu, demi kekebalan tubuh, atau jimat. Pak Bagus, dengan malu-malu mengakui, bahwa dulu dia memang pernah "menguntal" atau menelan, sejenis mirah untuk proteksi diri dari serangan gaib. Namun menurutnya itu sudah lama dileburnya. Menurut Pak Dewa, kejadian itu sebenarnya menjadi peringatan buat Pak Bagus dan juga yang lainnya, kalau hendak sembahyang ke Alas Purwo,atau masuk ke areal angker Alas Purwo haruslah bersih lahir bathin. Kalau ternyata ada yang memakai sabuk kekebalan, jimat, membawa senjata gaib ataupun diiringi oleh pasukan gaib, lebih baik disimpan dirumah.Intinya, kalau sembahyang ke Alas Purwo para pemedek harus dalam keadaan "kosong".

Tulisan berikut adalah sambungan dari kisah penulis waktu "tamasya spritual" di Alas Purwo, tepatnya di pura Luhur Giri Selaka, Banyuwangi, Jatim.
Pada waktu penulis bersama rombongan merebahkan diri di lantai tanah pura situs(masih di kompleks Pura Luhur Giri Selaka), ada kejadian yang menimpa salah satu anggota rombongan. Sebut saja Pak Bagus, Dan beliau baru mau cerita tatkala dalam perjalanan pulang menuju Bali. Menurut Pak Bagus, pada malam itu, dia merasa perutnya ada yang mencambuk habis-habisan. Katanya yang mencambuk perutnya sesosok tua. Pak Dewa, yang hafal betul dengan seluk-beluk sekala-niskala Alas Purwo, dengan bercanda, menanyakan kepada Pak Bagus, apabila dia ada menelan sesuatu, demi kekebalan tubuh, atau jimat. Pak Bagus, dengan malu-malu mengakui, bahwa dulu dia memang pernah "menguntal" atau menelan, sejenis mirah untuk proteksi diri dari serangan gaib. Namun menurutnya itu sudah lama dileburnya. Menurut Pak Dewa, kejadian itu sebenarnya menjadi peringatan buat Pak Bagus dan juga yang lainnya, kalau hendak sembahyang ke Alas Purwo,atau masuk ke areal angker Alas Purwo haruslah bersih lahir bathin. Kalau ternyata ada yang memakai sabuk kekebalan, jimat, membawa senjata gaib ataupun diiringi oleh pasukan gaib, lebih baik disimpan dirumah.Intinya, kalau sembahyang ke Alas Purwo para pemedek harus dalam keadaan "kosong".
Cincin Tersedot, Perut Tercambuk & Air Suci
Jumat, 29 Mei 2009
Catatan Menjelang Pesta Kesenian Bali 2009
Kehidupan berkesenian di Bali tercatat dari dulu sudah mendarah daging dalam setiap sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali. Seni, begitu menyatu dalam setiap tarikan nafas kehidupan masyarakat Bali sampai sekarang dan entah sampai kapan. Yang jelas, eksistensi seni dan budaya yang ada di Bali terbukti mampu menebar aroma harum seluruh pelosok dunia. Bali demikian terkenal ke seluruh dunia.

Catatan Menjelang Pesta Kesenian Bali 2009
Langganan:
Postingan (Atom)





